socialworkers.or.id
11 Sep 2010
Sejarah PDF Print E-mail

Berangkat dari kegelisahan bersama terhadap persoalan kesejahteraan sosial yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya sejak krisis multidimensi sejumlah Pekerja Sosial telah berupaya menyatukan gagasan melalui berbagai ragam kegiatan. Antara lain apa yang dilakukan oleh sekelompok Pekerja Sosial di STISIP Widuri, Kesos FISIP UI dan STKS. Dengan dukungan Prof.Martha Haffey dari BPSW (Building Professional Social Worker-New York) dan Ibu Cynthia Pattiasina,MSW,MPIA dari JMD (Yayasan Jembatan Masa Depan) serangkaian kegiatan diskusi dan seminar semakin sering dilakukan. Dan untuk mengukuhkan inisiatifnya dalam mendorong perkembangan Profesi Pekerja Sosial di Indonesia, BPSW didukung dewan penasihat nasional antara lain; Prof.DR Bambang Shergi Laksmono,MSc (Universitas Indonesia), DR. Sirajudin Abas,MSW (UIN-Syarif Hidayatullah), DR. Puji Pujiono, MSW (MPBI) dan Cynthia Pattiasina, MSW,MPIA (STISIP Widuri). Program utama BPSW di Inodnesia antara lain adalah menyediakan Beasiswa bagi mereka yang tertarik menempuh pendidikan Pekerjaan Sosial, baik di dalam maupun di luar negeri.


Bencana dahsyat Tsunami 2004 yang melanda Aceh dan berbagai belahan dunia lainnya, adalah keprihatinan mendalam yang mendorong Pekerja Sosial untuk berjibaku melalui aksi kemanusiaan, termasuk BPSW dan JMD. Setahun paska tsunami, tim Pekerja Sosial yang datang ke Aceh melihat adanya persoalan dan kebutuhan perlindungan bagi anak-anak korban tsunami. Maka atas kerjasama antara IPSPI (Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia) bersama UNICEF pada tahun 2005 dibentuklah Resources Center (RC) yang bertujuan membantu pemerintah Aceh (Dinas Sosial Pripinsi NAD) untuk menerapkan pendekatan SFFCCB(Safety Fosuced, Family Centered, Community Based – Approach) dalam rangka pemulihan sosial paska bencana. Pendekatan ini hendak mempromosikan upaya terbaik berpihak pada anak dalam proses pemulihan kehidupan paska bencana, yaitu melalui penerapan praktek pekerjaan sosial dan perspektif perlindung hak anak.

Hingga awal tahun 2008, program SFFCCB di Aceh pun berakhir, hampir bersamaan dengan pergantian ketua presidium IPSPI. Namun tim yang tergabung dalam Resources Center memiliki pemikiran, bahwa upaya yang telah dilakukan untuk mempromosikan Praktek Pekerjaan Sosial di Indonesia harus tetap dilanjutkan. Maka sekali lagi atas dukungan BPSW dan JMD, dikukuhkanlah perkumpulan Pekerja Sosial yang menaungi Resources Center baru, yaitu Social Work Practice Resource Center (SWPRC). Secara kelembagaan SWPRC bersifat mandiri dan tidak berada dibawah IPSPI, sebaliknya SWPRC berupaya untuk berkontribusi bagi reformasi dan penguatan asosiasi profesi pekerja sosial babak baru, dimana IPSPI akan segera berkongres pada 2009 mendatang.