| Kesetiaan seorang pendamping |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Thursday, 10 September 2009 06:42 |
|
Segala upaya dilakukan, semata agar rumah tempat berlindung puluhan anak-anak jalanan tetap bertahan. Bahkan tak jarang aset-aset kantor “dikeluarkan” agar biaya operasional dapat ditutupi. Tapi lulusan STKS bandung ini, tak menyesali pilihannya. Baginya memikul tanggung jawab sebagai koordinator jauh lebih menantang daripada sekedar menjadi volunteer di tempat serupa. Pelan-pelan, Gumgum merajut kembali komunikasi dengan dinas terkait dan lembaga-lembaga pemberi bantuan. Ditengah cibiran bahwa rumah singgah hanya memelihara anak jalanan untuk kepentingan proyek, Gumgum bertahan. Malah timbul tekad untuk membuktikan bahwa rumah singgah punya misi yang jauh lebih mulia dari pada sekedar memperebutkan proyek-proyek anak jalanan. Belum selesai menemukan cara agar keuangan rumah singgah membaik, Gumgum dihadapkan pada persoalan lain. Rumah tangga yang baru saja dibangunnya, menuntut untuk juga untuk diperhatikan. Awalnya ia masih bisa meyakinkan sang istri untuk memberinya kesempatan mengembangkan diri dan mempraktekkan ilmu pekerjaan sosial. Tapi ketika sang istri hamil dan membutuhkan susu, Gumgum tak bisa lagi mengelak. Menjadi supir angkot pun tak malu ia jalani. Setelah dua bulan mondar-mandir St Hall-Cimahi, Gumgum kembali ke Jakarta. Ia tak ingin berada terlalu jauh dari rumah singgah. Kali ini Gumgum berkompromi. Siangnya ia bekerja di sebuah Hotel di Tanah Abang dan malamnya menyempatkan diri untuk sekedar menyapa anak-anak di rumah singgah. Untuk sementara situasi cukup bersahabat baginya. Dapur keluarga tetap ngebul, dan obsesinya untuk melihat rumah singgah berkembang dapat berjalan beriringan. Setelah kelahiran anak, dan sang istri diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil, Gumgum merasa inilah saatnya untuk total mengurusi rumah singgah. Ia tak menampik posisinya di hotel akan meningkat. Tapi meneruskan kerja di hotel hanya akan memberinya uang, tidak kepuasan bathin, seperti yang didapatkannya ketika bersama anak-anak jalanan. Gumgum pun memutuskan untuk mengakhiri karirnya di hotel, kembali ke lingkungan anak-anak jalanan. Jalan terang mulai terlihat ketika ILO –badan PBB urusan pekerja- yang pernah bekerja sama sebelumnya, berencana untuk memulai program baru berupa penarikan anak-anak dari jalanan melalui kegiatan pelatihan. Gumgum memberanikan diri mengajukan proposal. Sejumlah persyaratan administrasi pun dilengkapi, termasuk pembenahan kepengurusan Yayasan. Proposal di setujui, dan ILO pun bersedia memberi support untuk kegiatan pelatihan bagi anak-anak di sekitar rumah singgah. Hasilnya, saat ini, kita bisa melihat tak kurang dari 50 anak-anak berusia 15-17 tahun setiap hari berlatih keterampilan montir motor dan salon. Sadar bahwa tak mudah mengajak anak-anak yang biasa memegang uang untuk duduk diam belajar, Gumgum punya pendekatan tersendiri. Menggunakan teknis konfrontasi, Gumgum meyakinkan anak asuhnya bahwa mencari uang dengan keterampilan bisa memberi hasil yang lebih besar dibanding ngamen. Selain lebih bermartabat, ruang lingkup pengamen semakin hari makin dibatasi oleh pemerintah kota. Disamping itu, Gumgum mengubah model pelatihan. Dari yang sebelumnya hanya mengandalkan lembaga-lembaga kursus yang ada, Gumgum memilih untuk mencarikan tutor terlebih dahulu. Syaratnya adalah orang yang peduli dengan masa depan anak-anak. Beruntung sosok itu ia temukan pada diri sang pengajar saat ini. Kemudian barulah Gumgum merancang program pelatihan bagi anak asuh. Metode pengajaran dibuat seinteraktif mungkin. Ada 4 buah motor yang siap untuk dibongkar pasang. Praktek, demo dan teori, begitu model pelatihan yang diterapkan. Tak jarang, Gumgum sendiri terjun mengajar. Sambil menyaksikan anak-anak praktek, sesekali Gumgum bertukar pikiran tentang kisah-kisah kehidupan. Tampak sekali, Gumgum menikmati kebersamaannya dengan anak-anak. Ketika ditanya tentang keinginan menjadi Pegawai Negeri Sipil, Gumgur menjawab bahwa keinginan itu sudah lewat. Dulu memang ia pernah mengangankan untuk menjadi PNS, tetapi sekarang ia sudah menemukan dunianya dalam pengasuhan anak-anak jalanan. Usai belajar keterampilan montir, anak-anak dipersilahkan untuk bermain musik di rumah singgah. Bagi Gumgum, upaya untuk mencegah anak-anak turun ke jalanan adalah dengan memberikan sebanyak mungkin perhatian dan kesibukan yang bermanfaat bagi mereka. Satu lagi program yang dinilai memberi penguatan spiritual adalah doa bersama. Sudah beberapa tahun ini, rumah singgah tak pernah absen mengadakan pengajian malam jumat. Di penghujung acara, Gumgum selalu meminta anak-anak asuhnya untuk berdoa. Berdoa untuk masa depan yang lebih baik, dan berdoa agar tetap diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi persoalan hari-hari yang dilalui. “Saya percaya, pada setiap kegiatan kemanusiaan, selalu ada kekuatan spiritual yang menjaga orang-orang yang bekerja didalamnya untuk tetap bergairah”, katanya. Pada tahun 2007, Gumgum merasa pengalamannya bergaul dan mendengarkan kasus-kasus anak-anak jalanan, tidak bisa lagi ia pendam sendirian. Ia ingin membaginya dan mendapatkan masukan dari orang-orang yang dianggap berkompeten. Dan Gumgum melihat lingkungan itu adalah kampus. Berbekal tabungan seadanya, Gumgum mendaftar menjadi mahasiswa program pasca sarjana kesejahteraan sosial di STISIP Widuri. Menjalani kesibukan kuliah dan mengelola program, Gumgum seakan menemukan keseimbangan. Teori-teori di kampus ia praktekkan di lapangan. Sampai kemudian Gumgum dihadapkan pada kenyataan bahwa tak ada lagi uang yang dimilikinya untuk membiayai kuliah. Gumgum sampai pada keputusan untuk mengakiri perkuliahannya. Ia sudah cukup bahagia bisa merasakan perdebatan di kampus. Fakta bahwa ia harus berhenti karena ketiadaan biaya tak terlalu disesalinya. Adalah Cynthia Pattiasina, dosen sekaligus Direktur Building Profesional Social Work (BPSW) yang membuat keputusannya berubah. Cynthia berujar, “pekerjaan sosial membutuhkan orang-orang yang mengerti praktek, seperti kamu ini”. Cynthia memperkenalkan Gumgum dengan Martha Haafey, salah seorang Board BPSW. Jadilah dengan dengan bantuan dari BPSW, Gumgum tak lagi dipusingkan dengan keharusan membiayai sendiri perkuliahannya. “Sekarang yang membuat saya pusing adalah tesis”, katanya tersenyum. Gumgum Gumelar, sepertinya ia harus minta bantuan doa dari anak-anak asuhnya. |



