|

Kalo enggak ngomentari soal terorisme rasanya koq kurang asyik, kurang sensitif terhadap persoalan Bangsa (mengutip bahasa Pilpres yang lalu hehehe).
Wikipedia menulis, Terorisme adalah serangan-serangan yang terkoordinir untuk menciptakan Teror, sedangkan Teror adalah perasaan dan situasi takut yang nyata, mencekam dan bikin bingung harus ngapain. Pak Komarudin Hidayat beberapa waktu yang lalu di tivi kasih penerangan, bahwa terorisme punya akar persoalan ideologi dan juga ekonomi politik. Nah, di Indonesia lebih kuat nuansa 'ekonomi dan politiknya' ketimbang persoalan ideologi, seperti yang banyak ditongolin di media.
Saya resah, kasian sama yang jadi korban, tapi juga melas sama yang jadi pelaku, goblok koq ya kebangetan. Terorisme yang pertama saya kenal terjadi di kampung saya, namanya Fatkhur (kami memanggilnya Patekur), dia agak edan sedikit, suatu pagi dia tutup jalan utama desa kami dengan pagar bambu, sebagai bentuk protes atas tindakan warga dan keluarganya yang ngotot hendak mengirim dia ke RS Jiwa Lawang. Akibat tindakannya, aktivitas sepanjang jalan utama desa kami lumpuh total, jangankan kami, rombongan Wakil Bupati pun tidak berdaya menembus otoritas patekur yang lagi 'trans'.
Biasanya, di tengah situasi genting muncul pahlawan, namanya Kamituwo Tayib, alih-alih membereskan persoalan di depan Wakil Bupati, eh kepalanya malah bocor kena tonjok Patekur. Macet masih bisa ditolelir, tapi bocornya kepala Kamituwo Tayib (yang dianggap sebagai sesepuh desa) adalah kekejaman dan penghinaan yang tak terampuni. Begitulah, dalam waktu yang singkat Patekur berakhir di Pasungan. Tadinya saya kesal dan gemas, eh setelah lihat Patekur hanya bisa ndoweh sambil ngences di pasungan, saya malah trenyuh. Sampai saya lulus SMP, Patekur masih dipasung, ketika saya melanjutkan sekolah ke kota saya dengar Patekur mati, demi mempertahankan status dan kehormatannya sebagai laki-laki, aku WARAS dan tidak GILA!.
He he he, saya ngayal waktu liat siaran penyergapan Noordin M Top di Metro TV, tiba-tiba SBY memerintahkan Pekerja Sosial Indonesia untuk turun mengatasi persoalan terorisme. Weleh, kira-kira menang siapa ya?
Tepatnya apa yang bisa dilakukan Peksos untuk menundukkan terorisme?. Ngurusin korbannya penting, tapi mikirin gimana caranya terorist pada insaf juga penting. Tahun 2003 saya sama seorang temen saya disuruh ikut ngopeni korban Bom Mariot. Jangankan menolong, kami butuh waktu sebulan hanya untuk meyakinkan korban dan keluarganya bahwa kami ini orang baik-baik, datang dengan niat tulus hendak membantu. Padahal waktu itu saya sudah pasang muka trenyuh, prihatin dan ikut bersimpati.
Saya mengajukan 3 Strategi Jitu kepada SBY berdasarkan Trilogi Kompor-Kolor- Tekor. Untuk bisa menundukkan terorisme, kita harus menguasai tiga teori ini: 1. KOMPOR, pertama terorisme terjadi karena ada 'kompor ngadat', kedua karena ada tukang 'kompor-kompor' dan ketiga karena ada 'kompor mbledug'. Kompor ngadat adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa menjerang air, menggoreng tempe atau menanak nasi, alias nggak bisa makan. Saking mlaratnya, kompor yang dijadiin alasan, sebenarnya memang nggak punya apa-apa buat dimasak. Kompor-Kompor adalah aktivitas dan situasi dimana menyebarluaskan ilusi tentang kenikmatan duniawi dan syurgawi lebih asyik ketimbang bekerja. Orang mlarat pasti susah disuruh kerja, gimana bisa kerja lha wong badan tinggal tulang sama kentut. Kompor-Kompor dalam bahasa marketing dikenal dengan istilah 'mouth of words' alias si mulut manis alias angin syurga. Terakhir, Kompor Mbledug adalah puncak dari segala puncak alasan. Daripada tidak bisa masak lebih baik kompornya dibakar sekalian, daripada lihat kompor nganggur terus dan nggak punya yang bisa dimasak lebih baik kompornya diobong, kompor adalah segala sebab kenapa kita miskin! sebab dari segala masalah di dunia! maka hancurkan!. Tragedi Kompor Mbledug ini sebenarnya tidak hanya menimpa orang miskin, tapi juga orang KAYA.
Solusinya adalah:
- Golongan kompor ngadat, berikan SEMBAKO
- Golongan kompor-kompor, berikan pendidikan dan PEKERJAAN
- Golongan kompor mbledug, beri HIBURAN dan kenalin TUKUL (setelah Mbah Surip tiada).
Lebaran tahun lalu saya mampir ke Desa Tenggulun, desanya Amrozi, golongan satu dan golongan dua banyak sekali di situ. Semua golongan berpotensi jadi teroris, hayo deteksi potensi anda sejak dini!
bersambung.. .KOLOR
|